KID

Cara Orang Tua Bimbing Anak Remaja agar Punya Pertemanan yang Sehat



Punya teman memang membuat siapa saja bisa merasa bahagia. Namun, siapa sangka bahwa pengaruhnya bisa sangat besar pada kondisi psikologi, khususnya pada anak di usia remaja.

“Perubahan emosional yang terjadi pada anak remaja membuat mereka lebih mampu untuk mengerti dan menyampaikan emosi yang dirasakan secara verbal. Hal tersebut memengaruhi pemahaman mereka tentang hubungan dalam pertemanan maupun hubungan romantis,” jelas Dr. Katharine Reynolds, PhD, profesor dan psikolog dari Children’s Hospital Colorado, seperti dilansir dari Verywell Family.

Namun, dalam setiap pertemanan, nuansanya tidak melulu senang-senang saja. Akan ada fase di mana anak merasa dikhianati, disakiti, atau bahkan ditinggalkan teman, begitu pun sebaliknya sikapnya terhadap temannya.

Peran orang tua pun jadi lebih penting untuk berkomunikasi dengan anak dalam hal berteman. Bukan dengan mengatur anak dalam memilih teman, tetapi bersedia mendengarkannya bercerita tentang lingkungan pergaulannya. Sebagai panduan, berikut ini beberapa poin tentang pertemanan yang bisa Moms dan juga Dads bahas bersama anak remaja Anda.

1. Bijak memilih teman

Ada banyak hal yang bisa jadi pertimbangan anak dalam memilih teman, dari kegemaran, cerita pengalaman, sampai pemikiran tentang suatu hal yang sama. Hal-hal ini tentu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah saat anak merasa bisa menikmati waktu yang menyenangkan bersama temannya.

Selain itu, pemahaman dan ketaatan terhadap ajaran agama juga perlu ada dalam diri sang anak maupun temannya, agar terjalin pertemanan yang sehat dengan tetap saling menguntungkan.

2. Kasih sayang dengan tulus

Seorang teman tidak hanya untuk sekadar mengobrol sesuatu yang menyenangkan. Justru teman bisa menjadi sosok yang selalu bersedia untuk hadir di setiap momen kehidupan, senang maupun sedih. Rasa kasih sayang pun perlu dimiliki anak Anda maupun lingkungan pergaulannya agar tercipta hubungan yang sehat dan positif untuk masing-masing individu.

3. Memaafkan dan mengusahakan pertemanan kembali

Melakukan kesalahan juga bisa terjadi dalam pertemanan anak Anda. Masing-masing dari mereka pun perlu memiliki hati yang besar untuk saling memaafkan. Tidak hanya itu, mereka pun perlu mengusahakan supaya pertemanan tetap terjalin. Ini bukan hal yang mudah, karena ada beberapa poin yang bisa dipertimbangkan anak, yakni

  • Apakah masing-masing masih saling membutuhkan dan bisa hadir saat dibutuhkan?
  • Apakah anak Anda dan temannya mampu menyampaikan isi hati mereka dengan terbuka?
  • Apakah mereka masih saling menyayangi sebagai teman?
  • Apakah dalam pertemanan tersebut tetap ada ruang khusus untuk masing-masing pribadi ketika sedang tidak bersama-sama?
  • Apakah anak Anda dan temannya cukup fleksibel untuk membicarakan suatu hal atau justru sering bertengkar karena berbeda pendapat?

4. Tetap buat batasan

Meski sudah berteman lama dan sangat dekat, tetap perlu ada batasan yang dimiliki anak Anda dan temannya. Batasan ini bisa dalam banyak hal, misalnya tidak saling merendahkan saat salah satunya gagal atau tidak melakukan sentuhan fisik di bagian tubuh yang sifatnya pribadi. Dengan adanya batasan, maka masing-masing individu bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

5. Saling jujur meski menyakitkan

Rasa sakit hati bisa timbul dari kejujuran. Namun, dalam pertemanan, Anda perlu memberikan pemahaman pada anak remaja Anda bahwa lebih baik berkata jujur akan suatu hal kepada temannya.Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dengan bersikap dan menjadi diri sendiri.

Jika kejujuran justru menjadi sumber pertengkaran tanpa ada penyelesaian, katakan pada anak bahwa ini hal yang bisa terjadi dan mungkin saja pertemanan mereka hanya sampai di sini. Dan ini pun tidak perlu disesali, karena bisa dijadikan sebagai pembelajaran untuknya dalam memilih teman.

6. Bertumbuh dan berpisah

Seiring bertambahnya usia, sampaikan pada anak Anda bahwa wajar jika ia dan temannya tidak lagi melakukan banyak hal bersama-sama. Mereka akan memiliki tanggung jawab dan kesibukan masing-masing, sehingga waktu kebersamaan mereka akan sangat berkurang saat beranjak dewasa dibandingkan saat mereka masih remaja.

Tentu akan sangat menyenangkan jika pertemanan mereka bisa terjalin sampai tua nanti. Namun, anak remaja Anda juga perlu memahami bahwa perpisahan dalam berteman tidak harus membuatnya sedih berlama-lama. Jadikan momen kebersamaan sebagai sebuah kenangan manis yang bisa dibagikan saat bertemu lagi atau untuk diceritakan kembali suatu hari nanti.

Faktanya, memiliki pertemanan yang sehat di usia remaja mampu membuat anak memiliki kesehatan mental yang baik saat ia dewasa nanti. Moms dan Dads tentunya bisa membantu dengan mendampingi anak remaja Anda dalam berteman dan memperhatikan hal-hal di atas. Semoga bermanfaat, Moms dan Dads. (M&B/Vonia Lucky/SW/Foto: Freepik)