KID

6 Contoh Kid-Shaming yang Tanpa Sadar Sering Dilakukan Orang Tua



Moms pasti sudah tak asing dengan istilah kid-shaming, ya? Ini adalah sikap mempermalukan anak, baik di depan umum, di rumah, maupun secara online. Mempermalukan anak sangat berbahaya, karena bisa membuatnya minder dalam jangka waktu yang lebih panjang daripada yang Anda kira.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak sadar sering melakukan kid-shaming, padahal maksudnya tidak ingin mempermalukan anak. Untuk itu Moms dan Dads harus ekstra hati-hati dalam memilih kalimat dan mengekspresikan perasaan, karena bisa jadi omongan Anda adalah bentuk kid-shaming terselubung yang tanpa disadari sering Anda lakukan.

Apa saja contoh kid-shaming yang sering tanpa sadar dilakukan orang tua? Read on, Moms!

"Duh! Pakai sepatunya lama banget, sih!"

Sering tidak membiarkan anak melakukan hal yang ingin ia coba demi menghemat waktu? Ini bisa jadi contoh kid-shaming lho, Moms. Bayangkan saja saat anak berusaha memakai sepatu sendiri di depan teman-temannya, lalu Anda membentak "Mama pakaikan saja sepatunya, ya. Kelamaan kalau kamu pakai sendiri." Kalimat yang Anda ucapkan hanya beberapa detik bisa membekas seumur hidup pada anak.

Kalimat tersebut tidak hanya membuat anak malu, tapi juga membuatnya tidak percaya diri dan tidak mandiri. Ia akan bergantung kepada Anda dan tidak berani mengambil keputusan, karena ia merasa keputusannya untuk melakukan sesuatu akan selalu tidak tepat. Ini bisa berlanjut hingga anak dewasa kelak lho, Moms.

"Jelek banget baju yang kamu pilih"

Mengkritik atau bahkan menghakimi selera dan pilihan anak adalah bentuk kid-shaming yang juga sering dilakukan orang tua tanpa sadar. Ketika Anda sudah membebaskan anak untuk memilih hal yang ia suka, seperti baju, mainan, atau dekorasi kue, maka hindari sikap menghakimi pilihannya.

Apa yang Anda ucapkan mungkin sekadar respons sesaat, tetapi bagi anak itu bisa menjadi kritikan pedas yang menghancurkan rasa percaya dirinya.

"Eh, jagoan enggak boleh nangis!"

Siapa bilang jagoan tidak boleh menangis? Semua orang boleh mengekspresikan perasaannya, dan memvalidasi perasaan anak adalah hal yang perlu orang tua lakukan. Daripada melarang anak menangis karena terjatuh di depan orang banyak, lebih baik mengajaknya keluar dari kerumunan dan memvalidasi perasaannya.

Sejajarkan tubuh Anda dengan anak, kemudian bilang kalau yang ia rasakan adalah sakit, kaget, dan malu karena terjatuh di depan umum. Itu adalah emosi yang normal dan juga terjadi pada semua orang. Jagoan juga boleh menangis saat kesakitan, kok!

"Sudah les mahal-mahal, nilainya cuma segini?"

Jika Anda sering merasa seperti ini, mungkin ekspektasi Anda yang terlalu tinggi, bukan kemampuan anak yang terlalu rendah. Kami mengerti, ekspektasi orang tua memang bisa menjadi motivasi anak untuk menguasai kemampuan baru, namun cobalah untuk memberikan ekspektasi yang sesuai dengan usia anak.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah jangan menyamakan kemampuan anak Anda dengan anak lain dan jangan menaruh ekspektasi berlebih hanya karena gengsi. Ketika sedikit saja anak tidak sesuai dengan ekspektasi Anda, maka tanpa disadari hal tersebut hanya akan menjadi pemicu orang tua melakukan kid-shaming. Itu tentu sama sekali tidak membantu anak berkembang, Moms.

"Mama enggak ngerti kamu ngomong apa, sih? Haha"

Saat sedang asyik berbelanja di supermarket, Si Kecil yang belum lancar berbicara berusaha berkomunikasi dengan anak dengan bahasanya yang belum Anda pahami. Hanya karena orang lain menatap Si Kecil dan terlihat tidak memahami kalimat anak Anda, maka Anda menertawakan anak di depan orang banyak.

Daripada mengabaikan ucapan anak atau bilang Anda tidak mengerti, lebih baik mencari tahu apa yang anak maksud dan mengulangi kalimatnya sesuai interpretasi Anda. Dari situlah komunikasi yang baik terbentuk dan kemampuan berbahasa anak juga ikut meningkat. Tidak perlu ada kid-shaming ya, Moms!

"Hei! Jangan berdiri di ayunan!"

Kalimat di atas sering dilakukan orang tua saat anaknya bersikap kurang baik di taman bermain. Sekadar mengingatkan anak mungkin bukan masalah, sayangnya orang tua juga melakukannya sambil melotot, menunjuk, dan bilang, "Mama sentil kalau nakal!" di depan umum.

Mendisiplinkan anak di depan publik hanya agar orang tua lain tahu kalau Anda sudah mendidik anak dengan benar? Itu bentuk kid-shaming di depan publik lho, Moms! Lebih baik ajak anak bicara berdua saja, kemudian jelaskan situasi dan aturan di taman bermain. Selain anak akan belajar mengenali situasi dan mematuhi aturan, ini juga akan memberi Anda waktu untuk menenangkan diri dari sikap anak yang sering kali unik.

Yuk, lebih bijak bersikap saat menghadapi anak. Tidak perlu ada kid-shaming di antara kita, Moms! (Tiffany/SW/Dok. Freepik)