BABY

Awas, Paparan Suara Keras Terhadap Bayi Bisa Berakibat Fatal!



Moms tentunya masih ingat kisah bayi berusia 38 hari asal Gresik yang meninggal dunia konon akibat mendengar bunyi petasan di lingkungan tempat tinggalnya beberapa bulan silam. Namun, benarkah paparan suara keras bisa berakibat begitu fatal buat bayi?

Meski belum diketahui secara pasti apakah kematian bayi tersebut benar dipicu suara petasan atau tidak, faktanya suara yang terlalu keras memang punya efek negatif buat bayi, anak-anak, dan orang dewasa. Efek jangka pendeknya bisa berupa kehilangan pendengaran untuk sementara atau munculnya sensasi telinga berdenging.

Namun menurut situs Safe Kids, paparan suara keras yang terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu panjang terhadap bayi bisa mengakibatkan kerusakan pendengaran secara permanen. Dengan kata lain, pendengaran Si Kecil bisa berkurang atau bahkan hilang sama sekali.

Gejala anak yang mengalami gangguan pedengaran antara lain adalah lambatnya reaksi terhadap suara keras, kesulitan mengerti pembicaraan, dan berbicara keras cenderung berteriak. Tanda lainnya adalah munculnya sensasi berdenging dan berdesis di telinga.

Dan bukan tidak mungkin, suara yang terlalu keras juga bisa menimbulkan kejang atau terkejut pada bayi sehingga memicu kematian. Itulah sebabnya, bayi sebaiknya menghindari suara yang terlalu keras dan cenderung mengagetkan.

Selain itu, paparan suara yang terlalu keras juga bisa mengganggu kesehatan anak secara fisik maupun psikologis. Gangguan yang dimaksud meliputi:

  • Gangguan kemampuan belajar dan konsentrasi
  • Gangguan sikap
  • Gangguan dalam kemampuan berbicara dan berbahasa.

Last but not least, bayi yang terlalu sering mendengar suara keras selama periode yang lama bisa terganggu pola tidurnya serta mengalami kenaikan detak jantung dan tekanan darah. Secara keseluruhan, tumbuh kembang dan kesehatan bayi bisa terganggu.

Berapa desibel batas amannya?

Lantas suara seperti apa yang bisa memberikan efek buruk buat Si Kecil? Batas bising yang dianggap aman yaitu kurang dari 85 desibel. Namun, bayi tidak boleh terlalu sering mendengarkan suara di atas 60 desibel. Untuk anak-anak, tidak dianjurkan terpapar kebisingan di atas 115 desibel.

Nah, buat Moms yang suka membawa bayi ke bioskop, Anda perlu tahu bahwa rata-rata suara film di bioskop mencapai 75-85 desibel. Sedangkan tingkat kebisingan film aksi lebih besar, yaitu bisa mencapai 95-100 desibel. Efeknya tidak hanya suara, tapi juga menimbulkan getaran.

Batas aman suara bisa dibagi sebagai berikut:

  • 0-60 desibel (nyaman di telinga), termasuk di antaranya adalah suara alam, suara percakapan dalam situasi normal, dan suara di kamar tidur atau ruang keluarga.
  • 60-90 desibel (suara keras), di antaranya suara kemacetan di jalanan, truk, dan konser.
  • Di atas 90 desibel (suara yang menyakitkan), termasuk suara mesin jet, alarm, dan alat untuk mengebor aspal.

Bagaimana meminimalisasi efek suara keras?

Mengingat efek suara keras bisa berbahaya buat bayi, Moms perlu meminimalisasi paparan suara keras terhadap Si Kecil. Anda bisa melakukannya dengan cara-cara berikut ini:

1. Memperhatikan tanda-tanda bayi terganggu oleh suara keras, seperti terkejut, gelisah, atau mungkin rewel. Jauhkan bayi dari sumber suara yang terlalu keras jika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda terganggu dengan suara tersebut.

2. Jangan bawa bayi ke konser musik atau berada di dekat lokasi pembangunan tanpa menggunakan pelindung telinga.

3. Suara teriakan kakak atau orang di rumah juga bisa mengganggu pendengaran bayi jika terpapar secara terus-menerus. Jadi, ciptakan suasana tenang di rumah.

4. Jangan menyetel radio dengan volume terlalu kencang saat berada di mobil bersama bayi. Pasalnya, perpaduan antara suara radio, lalu lintas, dan lain sebagainya di jalan juga bisa berefek negatif terhadap pendengaran bayi. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Foto: Freepik)